Selasa, 05 September 2017

Culture - Sejarah Kalingga yang Tersisa di Dieng

True Mag


Nama Dieng gabungan dari dua Bahass Kawi “di” yang berarti “tempat” atau “gunung dan “Hyang” yang bermakna Dewa. Artinya keseluruhan, tempat bersemayamnya para Dewa. Di kawasan ini terletak beberapa Candi-candi Hindu yang mulai dibangun pada abad ke-7. Diduga, inilah kumpulan Candi tertua di Jawa dan banyak diyakini merupakan Candi tertua di Indonesia. Para ahli memperkirakan kumpulan candi ini dibangun atas perintah raja-raja Wangsa Sanjaya. Di sini juga ditemukan sebuah prasasti berangka tahun 808 Masehi, Prasasti tertua bertuliskan huruf Jawa kuno yang masih ada hingga kini.

Analisis para ahli, pembangunan Candi Dieng diperkirakan berlangsung secara dua tahap. Yaitu yang diawali dengan tahap pertama yakni Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi dan Candi Gatutkaca, berlangsung antara akhir abad ke-7 sampai awal abad ke-8. Tahap kedua merupakan kelanjutan dari tahap pertama yang berlangsung sampai tahun 780 M.

Setelah sekian lama menghilang tertutup tanah dan air telaga, banyak pendapat bahwa Candi-candi di Dieng pertama kali ditemukan kembali sekitar pada tahun 1814 oleh seorang tentara Inggris yang sedang berwisata ke daerah Dieng dan tidak sengaja melihat sekumpulan Candi tersebut yang terendam dalam genangan air telaga. Dan sekitar pada tahun 1856, Van Kingsbergen yang memimpin pasukan dan masyarakat untuk berupaya pengeringan telaga tempat kumpulan Candi tersebut berada yang dilanjutkan kembali oleh pemerintah Hindia Belanda tahun 1864 untuk dicatat dan difoto oleh Van Kinsbergen. Sebagai informasi, Kinsbergen adalah pengukir berkebangsaan Belanda yang banyak mendokumentasikan aset arkeologi di Indonesia. Dia pulalah yang membuat foto pertama Candi Borobudur setelah direstorasi, tahun 1873.


Baca juga : 


EmoticonEmoticon